Tradisi Megengan Demak Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Setiap Daerah, masing-masing mempunyai cara tersendiri untuk menyambut bulan suci ramadhan, di Demak terdapat tradisi Megengan untuk menyambut bulan Ramadhan.
Biasanya, Tradisi Megengan ini digelar di sekitar kawasan Pendopo Kabupaten Demak sampai pada kawasan Alun-Alun Demak.
Megengan sendiri Berasal dari bahasa Jawa yang bermakna menahan diri atau “Ngempet”. Makna inilah yang menjadi filosofi dalam, menyiratkan bahwasannya sebagai insan islami sudah saharusnya menahan haus, lapar dan nafsu pada bulan yang penuh hikmah, bulan suci penuh berkah ini.
Tradisi sarat akan makna yang diwariskan oleh leluhur Kota Wali ini, juga menjadi wadah di mana masyarakat dapat berkumpul, seraya memanjatkan doa, dan berbagi kebersamaan sebagai bentuk syukur sekaligus harapan dalam sambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini, juga bukan sekadar budaya, tetapi juga menjadi media mempererat tali silaturahmi dan sebagai bentuk melestarikan warisan leluhur.
Dalam acara megengan, banyak ragam budaya yang ditampilkan, dan juga kulineran, Tahun ini terdapat rekor muri yang didapatkan dalam Megengan yaitu menampilan sate keong dalam 10.000 sajian di acara megengan.
Masyarakat demak dan sekitarnya berdatangan tumpah ruah disepanjang jalan Sultan Fatah untuk menyaksikan Festival Megengan dan Kirab Budaya yang digelar oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Demak menjelang Ramadhan 1447 H, Selasa (17/02/26). Kirab budaya yang dipusatkan di depan Masjid Agung Demak tersebut melibatkan ratusan penampil. Turut serta dari para pelajar SMA dan SMK. Turut menyemarakkan Tari Kolosal Suko-Suko Megengan, Tari Rebana Kota Wali, Parade Museum dan Benda Pusaka, Fashion show, Tari Kembul Mumbul, serta Barongan Kusumo Joyo.
Kepala Dinas Pariwisata Endah Cahyarini menyampaikan, kegiatan Megengan ini merupakan bentuk kearifan simbolik tradisi Demak dalam rangka menjelang bulan puasa. Kegiatan ini bentuk ikhtiar untuk nguri-nguri tradisi tersebut.
"Untuk menjaga budaya lokal dan untuk mengangkat pariwisata Kabupaten Demak", kata Endah.
Lanjut Endah pada Megengan kali ini Pemkab Demak mendapatkan apresiasi dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yaitu sajian 10.000 sate keong.
"Sate keong adalah menu istimewa pada pendahulu kita dan menjdi tradisi saat Megengan. Nantinya sate keong akan di bagikan oleh masyarakat yang datang", terangnya.
Hal serupa disampaikan Wakil Bupati Demak Muhammad Badruddin, menurutnya kegiatan ini sebagai ajang nguri-nguri budaya. Dirinyapun mengapresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut.
"Semoga kegiatan ini menjadi pemantik semangat untuk menghidupkan ruang seni di kabupaten Demak", kata Wabup.
Dalam kesempatan tersebut Wabup juga mengajak kepada seluruh masyarakat yang mengunjungi festival ini untuk menjaga kebersihan.
"Kepada para pedangan dan masyarakat untuk menjaga kebersihan di area Megengan. Jangan membuang sampah sembarangan, buanglah sampah pada tempatnya, "terang Wabup.
"Mari kita sambut bulan suci ramadhan dengan hati yng bersih dan tulus. Jaga konduktivitas dan saling menghormati antar sesama", tambahnya.

