Babak Baru Dua Nahkoda PBNU Menjelang Muktamar
Opini - Konflik PBNU dimulai adanya surat pemecatan oleh Rais Syuriah kepada Ketua Tanfidziyah. Dan Diberi waktu untuk segera mengundurkan diri terlebih dahulu, jika tidak maka akan dipecat atau diturunkan dari jabatannya. Hal ini landasannya adalah pelanggaran berat, yakni gus yahya pro zionis.
Lalu, Gus yahya selaku ketua tanfidziyah ini tidak terima karena dianggap keputusan itu cacat.
Konflik internal PBNU memunculkan dua arus besar: kelompok pro-islah yang berkumpul di pesantren (Ploso dan Tebuireng), serta kelompok kontra-islah yang lebih banyak bermanuver di hotel (Acacia dan Sultan). Pertanyaan “duitnya dari mana?” memang jadi sorotan, karena forum-forum besar seperti ini tentu butuh biaya, dan biasanya bersumber dari donasi jamaah, dukungan simpatisan, atau jaringan sponsor politik.
Kelompok Pro-Islah (Pesantren)
- Lokasi pertemuan: Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, lalu dilanjutkan ke Tebuireng, Jombang.
- Tokoh utama: Kiai sepuh NU, termasuk KH Oing Abdul Muid Shohib (Lirboyo) yang menjadi juru bicara.
- Isi seruan:
- Mendesak islah (rekonsiliasi) demi menjaga marwah PBNU.
- Meminta kedua kubu menahan diri dan menghentikan polemik di media.
- Menekankan bahwa NU harus kembali ke khittah perjuangan, bukan terjebak konflik internal.
- Nuansa: Pertemuan di pesantren memberi kesan kesederhanaan dan keikhlasan, seolah ingin menegaskan bahwa perjuangan NU harus kembali ke akar tradisi pesantren.
Kelompok Kontra-Islah (Hotel)
- Lokasi pertemuan: Hotel Acacia dan Hotel Sultan, Jakarta.
- Isi sikap:
- Lebih memilih mempertahankan posisi masing-masing, tidak mau kompromi.
- Pertemuan di hotel memberi kesan lebih “modern” dan “politik praktis” dibanding forum pesantren.
- Nuansa: Ada kesan “ceplus minus” di satu sisi lebih nyaman dan prestisius, tapi di sisi lain menimbulkan pertanyaan soal sumber dana dan motivasi.
Duitnya dari mana?
Nah, ini bagian yang sering bikin jamaah bertanya dengan nada ala Ustadz Yusuf Mansur: “Duitnya dari mana…? Duitnya dari mana…?”
- Kemungkinan sumber dana:
- Donasi jamaah dan simpatisan.
- Dukungan tokoh politik atau jaringan bisnis yang punya kepentingan.
- Kas organisasi atau kontribusi pribadi para kiai/elite.
- Perbedaan kesan:
- Pesantren: Biaya relatif sederhana, ditanggung internal pesantren dan jamaah.
- Hotel: Biaya lebih besar, sehingga wajar muncul dugaan ada sponsor eksternal.
sosial-politik:
- Pro-islah: “Kiai-kiai kumpul di pesantren, sandal jepit berjejer, nasi pecel jadi konsumsi. Semua bicara damai, adem, ayem.”
- Kontra-islah: “Di hotel, kursi empuk, AC dingin, kopi cappuccino. Tapi jamaah di luar bertanya: ‘Lha, duitnya dari mana…?’”
- Punchline ala Yusuf Mansur: “Kalau duitnya dari jamaah, ya barokah. Kalau dari sponsor politik, ya… hati-hati! Duit itu bisa jadi ujian.”
Kesimpulan: Konflik PBNU bukan sekadar soal ideologi, tapi juga soal arena (pesantren vs hotel) dan logistik (siapa yang biayai). Pertanyaan “duitnya dari mana” jadi refleksi kritis jamaah terhadap transparansi dan keikhlasan perjuangan NU.
